Minggu, 20 Juni 2010

Keliling Bangkok


Jam di hp udah menunjukkan jam 7 pagi, dengan males gue seret badan ini ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Karena hari ini gue musti habisin waktu seharian keliling Bangkok karena besok pagi gue udah terbang ke Phuket.
Udah rapih dan cakep, langsung gue ke resepsionis nanyain kamar gue yang harusnya gue pesen, udah siap apa belon? Karena gue nggak mau bayar ekstra lagi untuk family room yang gue tempatin semalem. Eh ternyata udah siap, tapi kucrutttt!!! adanya di lantai empat!!! Ya sud, gue gotong tuh backpack super gue melalui tangga menuju lantai empat. Kamarnya lumayan sih, cuman naro tipi-nya kok diatas banget yak nyaris nempel langit2, leher gue pegel nontonnya, gak papalah cuman semalem ini.
OK, gue mulai penjelajahan kota Bangkok ini, gue rencanain semuanya pake kereta, karena cepat dan hampir terhubungkan dengan semua tujuan gue. Mulailah gue berjalan kaki menuju stasiun subway yang berjarak 200 meter dari tempat gue nginep. Dipintu stasiun, semua barang bawaan di cek termasuk tas kecil, setelah itu gue langsung menuju mesin tiket, tujuan gue yang pertama adalah patung jade budha di Grand Palace dan sleeping budha di Wat Pho.
Sesampai dipinggir sungai Chao Phraya, ada pelabuhan kecil untuk menambat-nya kapal tranportasi sungai. Hmmm ternyata transportasi melalui sungai masih dipertahankan di kota semodern Bangkok ini. Langsung gue bayar tiketnya untuk ke Wat Pho sebesar 20 bath satu kali jalan. Tak lama kemudian kapal pun tiba, gue langsung ambil tetmpat duduk paling pinggir karena kapalnya lumayan sepi penumpang. Langsung kamera pocket gue pun beraksi, tapi sayang agak mendung, gak papalah.
Akhirnya sampai juga ke pelabuhan kecil deket Wat Pho, langsung gue keluar pelabuhan yang ternyata diluarnya ada pasar kecil yang lumayan rame, gue tetep ikutin petunjuk jalan menuju Wat Pho kearah kanan dan akhirnya gue liat tembok putih yang panjang banget dan ada pintuk kecil yang banyak orang keluar masuk, pasti disitu, feeling gue. Bener aja disitulah pintu masuknya. Tapi kok nggak ada loketnya? Oh ada dipintu satu lagi, dengan sadar gue bayar tiketnya yang cuman 15 bath.
Kuilnya rame banget, ternyata ada perayaan Song Khran, yaitu hari penyucian diri, beruntung banget gue. Ada perayaan memandikan patung budha kecil dan ada doa bersama. Plus ada juga bazar dipelatarn kuil, wuiihh, banyak banget orang. Selesai putu2, gue mulai ngantri masuk ke dalam kuil Budha tidur, musti buka sepatu dan jangan khawatir sepatu kita ilang, karena mereka sangat menghormati tempt ibadah bukan buat tempat nyolong sepatu.
Begitu gue masuk, ruangan agak gelap dan nggak jelas dimana patung budha-nya, ehh ternyata patungnya guuuedeee banget, pas pintu tadi baru kepala, kemudian menyusuri keliling patung tersebut yang dilapisi emas. Sekitar patung ada pundi2 kecil yang bisa diisi dengan koin2.
Selesai putu2, tujuan gue berikutnya adalah Jade Budha yang terletak di kompleks Grand Palace. Sebenarnya bersebelahan den komplek WAT Pho cuman kita musti jalan kakai lumayan jauh menyusuri tembok Grand Palace untuk masuk ke pintu depannya, karena cuman pintu saja yang dibuka.
Sepanjang trotoar banyak pedagang kaki lima, kayak di jatinegara banget, ada yang jual obeng, barang bekas, obat-obatan tradisional dll. Tapi kok kaki gue lecet luga nih, siaul gue nggak pake kaos kaki sih. Akhirnya gue mampir ke apotik deket pelabuhan Grand Palace, terus gue bingung mau beli tensoplast bahasa inggrisnya ape yak?? Ada sekitar 5 menit gue mikir didepan pintu apotik mikirin apa bahasa inggrisnya, akhirnya ketemulah yaitu BAND AID, he he he he.
Untung ibu si punya apotik tahu apa yang gue sampein, dia langsung ngasih 2 jenis, dan nyaranin yang lebih mujarab yang mana. Untungnya gue nggak perlu cape2 pake bahasa tarsan segala, he he he
Selesai make tensoplast lansung melangkah lagi ke pintu masuk Grand palace, mau ngeliat Jade Budha untuk manteb banget nih.

Menuju Bangkok


Ini perjalanan gue ke Bangkok tahun 2007.
Pagi-pagi jam 5 ini gue bela-belain naik taksi dari rumah ke airport Soekarno Hatta, keluarlah uang dari dompet sebesar 150 rebu. Yo wisslah, emang dasar udah niat banget kok. Nyampe langsung ke counter check in Air Asia tujuan Batam, gue mau ke Bangkok lewat Singapore karena waktu itu belum ada flight direcy AirAsia ke Bangkok, dan ada harga promo Jakarta - Batam dan Singapore - Bangkok.
Setelah selesai check in, langsung melesat ke ruang tunggu karena perut udah "berontak" minta ada yang dikeluarin, he he he. Baru selesai dengan "urusan pagi" itu tiba-tiba hp gue bunyi, diujung sana ada telepon "Pak Iyan, saya dari AIr Asia, bapak lagi dimana? Pesawat akan berangkat 5 menit lagi", "Sudah mau berangkat pak? bukannya masih 15 menit lagi" kata gue sambil menatap jam di hp satu lagi. "Iya pak jadwalnya kita majukan" katanya.
"Ok, saya kesana" sambil buru-buru.
Begitu naik ke ruang tunggu, ternyata emang udah kosong tinggal 3 orang penumpang lagi yang juga berlari-lari kecil barengan gue. Gilaaa, Air Asia kalo delayed nggak kira-kira dan kalo jadwalnya maju juga mendadak, maklum penerbangan murah. Akhirnya gue masuk pesawat dan duduk dengan rapi dikursi gue, pesawat sudah mulai didorong mundur, dan ketika pesawat mau maju tiba-tiba lampu didalam pesawat dan mesin MATI. Waduuuhhh penumpang langsung panik dan langsung istighfar, begitupun gue, dan emang dasar orang Indonesia, ada yang ngmong "Untung ya kita masih didarat, coba kalo udah diudara, nggak tahu nasib kita seperti apa" oooaaallaaaa kok ya masih ngomong gitu???
Akhirnya kita dipindahkan ke pesawat di terminal 2, dan jantung masih deg-degan nih. Alhamdullilah perjalanan lancar sampai di Batam, begitu nyampe Batam gue langsung ke counter Penguin Ferry, harga tiketnya $20 Sing pp dan gak bisa beli one way, nyambung taksi ke Batam Center Rp 70 rebu, nyampe Batam ternyata gue telat 10 menit naek Ferry yang dijadwalnya gue pengen. Ohhhh tidak, gue musti ngejar pesawat ke Bangkok di jam 3 sore, dengan lunglai akhirnya gue pasrah dan berdoa mudah-mudahn keburu, dan untuk menghabiskan waktu yaitu dengan sarapan di mall seberang Batam Center.
Akhirnya naik Ferry pun tiba, bayar fiskal 500 rebu (waktu itu belum ada peraturan fiskal gratis bagi pemegang NPWP), perjalanan 1 jam menuju Harbour Front Singapura, berarti kalo dari Batam jam 10:30 maka nyampenya jam 12:30 waktu Sing, masih keburu kayaknya pikir gue. Selama naek Ferry gue hanya tidur aja, males ngapa-ngapain karena khawatir ketinggalan pesawat. Sesampai di Harbour Front gue langsung lari-lari kecil menuju Imigrasi, proses di Imigrasi lancar, langsung lari-lari kecil lagi ke stasiun MRT dibawah mallnya. Beli tiket MRT dimesin tiket menuju Changi Airport, lewat pintunya dengan men-tap tiket plastik dan begitu baru mau lari-lari lagi ke peron kereta, tiba-tiba gue distop petugas stasiun dan ia meminta tas gue agar dibuka untuk diperiksa, HAH apa-apaan nih?? Tadi di Imigrasi gue nggak perlu rombak2 tas segala cukup lewat X Ray aja, gue pasrah deh maklum ini negara orang. Prosesnya agak lama sekitar 10 menitan, ampe gue jengkel dan dia nanya-nanya gue mau ngapain ke Singapura, di tas ada apa aja, dan kenapa nggak naik taksi. Sialan kalah nih petugas Imigrasi, gue pun jawab dengan males-malesan, setelah selesai gue langsung jalan kearah peron yang terleta dibawah, eh nggak jauh dari gue ada bule yang asyik bawa tas gunung gede tanpa melewati pemeriksaan, anjriittt mungkin karena tampang gue melayu kali ya jadi tuh petugas agak rese'
Sudahlah, gue musti ngejar pesawat di Changi, dan akhirnya gue sampe juga di Changi, langsung gue lari-lari lagi ke platform Sky TRain menuju terminal 1 (stasiun MRT Changi di terminal 2), keluar Sky Train langsung ke counter Air Asia dan alhamdullilah belum tutup. Walhasil gue bisa naek pesawat itu ke Bangkok, selama perjalanan 2,5 jam itu gue makan nasi lemak dan tidurrr.
Pesawat mendarat dengan mulus di airport Suvarnabhumi Bangkok, waduh waktu udah sore nih jam 16:30 waktu Bangkok (asma dengan WIB). Selesai proses imigrasi gue langsung celingak celinguk nyari tourist information, tapi kok nggak nemu yah, waduh gimana ini? Nanya ke petugas airport dan ia bilang counter itu belum buka karena airport baru diresmikan beberapa bulan waaakkkksss, akhirnya gue nanya counter taksi dimana? Dia menunjukkan pintu ke pintu keluar, ok thanx ya mas (he he he).
Begitu gue keluar pintu ternyata udah ada 15 orang yang mengantri taksi, waaakkkss tambah stress lagi deh gua, ya udah nongkrong dulu bentar deh disini. Nggak lama kemudian ada seorang pria berpakaian jas rapi lengkap dengan dasi menawarkan taksi eksklusif ke gue , gue iseng tanya berapa untuk ke daerah Lumphini (tempat gue nginep Lumphini House), dan dia menwarkan 800 bath, gue nggak mau, karena naek taksi reguler yang antri itu hanya 300 bath, itu namanya lebih dari 2 kali lipat, tapi dia kemudian menurunkan 600 bath, dan tetap gue nggak mau, kemudian dia menurunkan lagi 500 bath termasuk bayar tol (lhaaa dari tadi ongkos tol musti bayar sendiri yah??? nyaris gue ditipu, gue ngelirik ke antrian, kok nggak berkurang juga yak, jam di hp udah menunjukkan jam 17:30 hmm udah sejam gue nongkrong, akhirnya gue bilang sama petugas taksi ekslusif tadi kalo gue mau 400 bath sudah termasuk ke ongkos tol, dia agak mikir terus tiba-tiba dia bilang OKAY, uhuuii akhirnya gue menang, dan setelah gue itung ternyata cuman Rp 120 rebu, mahalan dari rumah gue ke airport SoeTta yak.
Dan gue langsung bayar ditempat, waduh agak mikir juga takutnya gue ditipu ditengah jalan, tapi mudah-mudahn nggak lah, mobil Mercy Sedan hitam pun langsung datang begitu dicalling, widdihhh selama dijakarta gue nggak pernah naik taksi sebagus ini, ini mah sekelas Silver Bird, murah lagi he he he.
Pengemudi taksi-nya funky, dia dipanggilnya Franky karena kalo nama Thailand-nya susah disebut ama orang asing, hua hua hua gile juga nih driver. Kemudian dengan terbata-bata dalam bahasa inggris dia bilang Bangkok itu sudah maju banget, ada kereta ditanah, diatas tanah (monorail) dan ada juga dibawah tanah (subway), terus kalo ke Bangkok jam segini pasti macet dimana-mana.
Akhirnya nyampe didaerah Lumphini, dan si Franky nanya kenapa nggak nginep di Khaosan atau Sumkhuvit pusatnya turis, dan gue bilang kalau gue males dengan keramaian, langsung jidatnya berkerenyit, he he he pasti dia nggak nyangka ada melayu yang demen dengan daerah sepi biasanya kan bule-bule yang demen daerah begitu.
Franky kesulitan mencari tempat gue nginep padahal udah gue kasih peta yang gue print, dan ternyata si Franky tidak jago dalam membaca huruf latin, onde mandeeee kok bisa ngomong bahasa inggris yak. Akhirnya gue menggunakan feeling traveler gue, gue bilang si Franky musti muter jalan karena masuk ke penginapan gue itu satu arah, dan bener aja ketemu tuh penginapan disuatu ruko. Dan si Franky terheran-heran dan dia bilang "Anda yakin baru pertama kali kesini?", gue cuman menunjuk kekepala gue sambil senyum. Byee Franky, driver paling funky dan gokil se Bangkok kayaknya.
Pas gue check in penginapan ternyata kamar yang gue pesen sudah penuh yang ada tinggal family room untuk malam 1, gue kesel banget, tapi emang salah gue sih karena gue merubah tanggal kedatangan dan pihak penginapan bilang ketersediaan kamar belum tentu ada. Gue musti nambah 80 bath, padahal gue udah bayar pake kartu kredit untuk 2 malam via internet, yo wiss lah.
Langsung masuk kamar dan bersih-bersih, selesai itu gue jalan ke Lumphini Market yang buka sampai pagi, liat-liat barang yang dijual disana mirip-mirip barang kerajinan bali yang dijual di pasar Sukowati, kelelahan muter2 gue beli kelapa muda dingin yang bulet-bulet dimasukkin ke freezer, nggak kayak di Indonesia kalo mau dingin dicemplungin es batu kedalam kelapa. Kenyang air kelapa muda gue nyari makanan halal, waduh susah nggak ngerti tulisannya, patokkan gue ada tulisan halal bahasa arab. Nyerah deh, akhirnya gue ke 7 Eleven (mirip Circle K) beli frozen food yang halal yaitu chicken rice, gue angetin di microwave toko itu, lumayan buat makan dikamar.
Keluar 7 Eleven gue tertarik sama pejaja makanan kaki lima didepannya, langsung gue lirik, ooohh sea food bakar berbentuk sate nih, nyam nyam. Tapi gue bingung berapa harganya karena si penjual nggak ngerti bahasa inggris, untung ada anak muda Thai yang beli terus gue tanya berapa harganya dan dia bilang 25 Bath pertusuk. Akhirnya gue pilih 1 tusuk cumi dan 1 tusuk udang, pas dibakar wangiiii banget, si pemuda tadi langsung pamit karena dia ditungguin temen-temennya. Ok Thanx, kata gue, begitu gue mau bayar itu sate seafood dengan uang 50 Bath tiba-tiba si pedagang menunjukkan jari 1 dan 3, apa maksudnya?? terus tangan dia pose meminta, ohh maksudnya 1 tusuk ternyata 30 bath bukannya 25 bath, siaul pasti gara-gara gue bukan orang Thai nih. Ya udahlah nggak mau ribut bayar aja segitu.
langsung masuk kamar dan makan nasi ayam plus sate sea food, dan ternyata sate sea foodnya uueennaaakkee poolll, ditambah saus hitam yang dicampur potongan cabe rawit kecil, nikmaaatt walaupun cuma segitu doangan. Udah kenyang nonton tipi Thailand dikamar samabil cengar-cengir dengerin bahasa mereka, tapi lama kelamaan kok jadi terbiasa yah, malah kayaknya agak ngerti dikit2 bahasanya he he he. Oaaahhhmmm udah ngatuk, ya udah tidur dulu, besok pagi baru jalan-jalan keliling Bangkok.

Kamis, 17 Juni 2010

Keliling Candi Dasa, Blue Lagoon, Benoa dan Sanur




Oaaahheemm, lumayan juga tidur semalem di Losmen Ketut Nusa Lembongan ini. Waktu sudah menunjukkan pukul 06:30 WIB, waktunya sarapan hari ini, nasi goreng standard sudah siap dicafe-nya. Yah lumayanlah buat ganjel perut pagi ini sodara-sodara.
Selesai sarapan langsung mandi, sikat gigi, "bongkar muatan" sisa makanan kemarin yang tidak bisa dicerna lagi, abis itu packing buat balik ke Sanur.
Check out dari Losmen, langsung jalan menyisiri pantai menuju kantor Perama Travel yang berjarak kurang lebih 50 meter. Ternyata disana sudah nongkrong banyak orang, dari orang lokal sampe turis asing, kira-kira 15 orang lah. Tidak lama kemudian kami pun naik kapal Perama, terbuat dari kayu juga bukan fibreglass, tapi kapal ini lebih layak daripada kapal gue berangkat yang barengan bayi babi itu, he he he. Ada yang menarik dari sekian penumpang yang ada dikapal ini, yaitu ada 2 orang lokal bali, yang 1 adalah seorang ibu yang sudah sepuh berpakaian kebaya dan kain khas bali, yang ke 2 adalah seorang pria dengan kumis dan janggut lebat plus rambut gondrong ditambah guratan tato melingkar di pangkal tangannya, dengan berpakaian kaus kerah, sarung bali, balutan kepala khas bali lengkap dengan bunga kamboja yang disemat dikuping.
Rupanya mereka adalah ibu dan anak yang habis bertandang kerumah sanak saudaranya di Nusa Lembongan (gue rada nguping dikit dari pembicaraan mereka dalam bhs indonesia). Yang membuat menarik adalah betapa telaten-nya si anak dalam meladeni ibunya, mulai menggendong ibunya naik kapal, memberikan minum, menyiapkan bekal roti, sampai melindungi ibunya dari cipratan air laut saat kapal sedang berjalan. Gilaaaa, betapa cinta dan sayangnya si anak kepada ibunya, rasanya kalau difilm-in pasti kalah deh semua film karya-karya Mira Lesmana, Riri Riza, Nia Dhinata dan Rudy Sujarwo. Gue langsung inget emak dirumah, apakah gue pernah membalas semua kebaikan emak gue selama ini dengan perhatian yang kecil-kecil namun sangat berarti itu.
1 jam berlalu kami sampai di pelabuhan Sanur, alhamdullilah air lagi surut jadi gue nggak perlu digendong seperti saat gue ebrangkat ke Nusa Lembongan kemarin, ha ha ha
Langsung gue menuju perwakilan Perama Travel di Sanur yang hanya berupa satu meja kecil dipinggir warung, lho kok begini perwakilannya? tapi emang bener kok, ya sudahlah yang penting sekarang gue mau titip tas sama bapak penjaganya karena gue bilang mau naik bis perama ke airport yang jam 19:00 WITA. Kemudian gue cari-cari rental motor sekitar situ, setelah warung makan ikan goreng Mak Beng nggak buka2 (padahal udah ngidam banget nih!), dapetlah motor bebek rental seharian seharga 50 ribu dengan KTP gue ditahan.
Langsung tancap gas menuju tujuan pertama gue yaitu pantai deket pelabuhan Padang Bai. Ternyata lumayan jauh yak, ampe2 gue mampir ke mini market dulu buat beli minum, tapi masih semangat. Akhinya nyampe juga ke Pelabuhan Padang Bai, setelah itu tanya sama petugas pelabuhan dimana letak pantai air biru dan ditunjukkanlah gue ke arah jalan samping pelabuhan, yang emang nggak ada petunjuk jalannya. Memang mudah kok, tinggal ikutin jalan aspal itu aja, sampe mentok menanjak kearah bukit. Sehabis menanjak dan aspal sudah tidak ada barulah ada papan kecil menunjuk kebawah bukit dengan tulisan Beach Cafe, uhuiii ketemu juga nih.
Motor gue parkir agak nempel pohon karena susah banget menemukan tanah datar diparkiran itu. Ditambah pula jalan menurun kearah cafe juga tidak mudah, licin dan tidak ada undakannya. Dan akhirnya gue bisa dengan selamat sampai di cafe itu, dan ternyata pemandangan didepan cafe itu sangat indah, ada semacam teluk yang dikepung karang-karang sehingga ombak tidak begitu tinggi dan air yang sangat jernih. Ohhh sayang gue nggak bawa baju ganti, pengen rasanya nyemplung ke birunya air laut yang jernih itu.
Suatu sosok menyapa gue dengan ramah dan mempersilahkan gue untuk duduk, okelah gue bisa makan roti lapis (sandwich) dan kopi sambil menikmati panati kecil yang indah ini. Kemudian gue ngobrol-ngobrol sama pemilik cafe itu, dan ternyata belum banyak turis lokal yang kesitu karena lokasinya yang agak ngumpet dan kurang kooperatif-nya para manusia-manusia dipelabuhan untuk menunjukkan tempat ini, karena mereka takut cafe dan restoran sekitar pelabuhan jadi sepi. Ohh persaingan bisnis tho rupanya, ribet juga emang urusannya kalo begitu.
Okeeh, setelah menikmati makan gue lanjut ke Candi Dasa, kata si empunya cafe sekitar 30 menit dari situ. Sipp, lanjut menuju Candi Dasa dan katanya bisa mampir ke sebuah goa sebelum sampai kesana, waduh gue lupa nama goa-nya.
Motor bebek gue gas lagi menuju Candi Dasa, dan iya ternyata jalannya melewati sebuah gua besar dipinggir jalan, tapi kok rame banget ya? Ohhh lagi ada upacara tuh, yahhh urung deh mampir kesitu, lanjut lagi deh ke Candi Dasa.
Nahh tiba deh gue di Candi Dasa, tapi kok nggak ada pantainya, semuanya batu dan beton dipinggir pantai, kalaupun ke pantai musti masuk ke cafe, waduh cafe lagi males ah, lagian airnya juga lagi pasang-pasangnya. Yo wiss fdifoto aja daripada nanti nyesel, kemudian gue inget katanya ada laguna kecil yang penuh dengan teratai, gue cari laguna itu aja deh. Ehhh ketemu dipinggir jalan tapi kok bentuknya kayak empang ikan yang dibeton sekelilingnya dengan banyak teratai tumbuh didalamnya, ohhhh kecewa deh gue, kok kayak gini bisa masuk lonely planet sih.
Ya udah,masih ada beberapa tujuan lagi, yaitu ke tanjung benoa, pantai sanur dan searching baju- murah di surfing factory outlet jalan i gusti ngurah rai.
Motor kembali gue gas pol menuju tanjung benoa, kesana karena penasaran aja. Sampai disana cuman ada kapal-kapal besar yang sedang berlabuh, orang-orang mancing, dan pedagang jamu keliling (kok ada pedagang jamu yak?)
Lanjut dengan motor gue ini ke Surfing Factory Outlet jl I Gusti Ngurah Rai, dasar emang rejeki, gue beli tas No Fear 75 rebu dan T Shirt-nya seharga 40 rebu, uhhuuii girangnya dalam hati.
Rasa lapar kemudian melanda perut gue, hmmm makan apa ya, maumakan ikan goreng Mak beng jauh banget di Sanur, yo wiss lah masakan padang deket FO itu kayaknya juga enak kok. MaMakanlah gue di RM Padang itu dan ternyata emang uenak banget dan rame full terus, dan yang yang makan kayaknya para masyarakat pendatang, yang kayak pelancong bisa dihitung jari.
Udah kenyang lanjut ke pantai Sanur yang berada di sekitar jalan Tamblingan. Lumayan jauh, dan sesampai disana ternyata air laut surut dan banyak kapal-kapal kandas diatas batu, asyik juga nih jalan diatas batu-batu sampai ketengah-tengah siapa tahu bisa ketemu bintang laut kayak perjalanan gue kesini 3 tahun lalu. Abis itu gue asyik ngeliatin anak-anak yang apda main layangan, lumayan menebus penasaran gue yang nyasar di Nusa Lembongan gara-gara pengen ngeliat layang-layang disana he he he.
Udah puas, wara wiri disana ternyata waktu sudah sore, gue musti balik ke Sanur jalan Hang Tuah untuk naik bis Perama ke airport. Dan gue tiba tepat waktu tapi bis-nya belon muncul, ohh ternyata bisnya dari Padang bai menunggu penumpang kapal Perama dari Lombok yang dateng telat gara-gara ombak gede, aneh ya disono air lautnya ada yang surut ada yang pasang pada saat bersamaan.
Akhirnya tiba juga bis yang ditunggu, naiklah gue bis ini sebelumnya gue persilahkan 2 turis cewek jepang yang agak tergopoh-gopoh untuk naik duluan. Ternyata bis itu lumayan full dan rata-rata mereka dari lombok, keliatan dari muke-mukenya yang letih banget, he he he.
Tibalah gue di airport, tapi kok pesawat Air Asia yang gue tumpangi delayed? Hmm udah mulai kebiasaan nih, ngaret muluuu. Ya udah lah gue makan malam aja di Solaria, lumayanlah dengan uang 30 ribu gue bisa dapet makan dan minum, daripada makan dipesawat yang harus menghabiskan 45 ribu, ngirit bung.
Akhirnya waktu menunjukkan saatnya gue check in, langsung gue bergegas ke counter check in, dan menunggu dengan manis di ruang tunggu penumpang. Dan tak lama kemudian gue udah masuk kedalam pesawat yang akan membawa gue kembali kejakarta. Good bye Bali, moga-moga gue bisa balik lagi dan menikmati keindahan mu.

Keliling Nusa Lembongan






Setelah istirahat selama 30 menit di kamar penginapan, saatnya eksplore Nusa Lembongan.
Duh, pake apa ya keliling? Yang pasti nggak ada angkot disana, akhirnya gue putuskan untuk menyea motor sama Wayan, salah satu karyawan penginapan. Dan setelah tawar menawar dapetlah 70 rebu seharian plus bensin (pom bensin juga nggak ada disana).
"Motornya yang mana?" ujar gue
"Disana mas, bebek warna hitam" jawabnya sambil menunjuk parkiran motor
"Kuncinya mana?" tanyaku
"Dimotor mas" jawabnya singkat. Weleh kok dimotor? nggak takut diambil orang yak?
"Tenang mas, disini aman kok, ninggalin motor dengan kuncinya nggak bakal dicolong orang" tukasnya
Ya iyalah dipualu kecil ini kalo nyolong motor pasti ketauan, he he he. Langsung aku melesat ke parkiran motor dan membawa motor bebek hitam yang terpakir disana. Namun tak lama jalan kemudian ada sebuah motor mengklakson dengan ribut dibelakang, gue pun berhenti dan menengok kebelakang. Oh ternyata empunya losmen, Pak Ketut mengendarai motor itu dan langsung menepi disebelah gue.
"Mas, itu motor saya bukan punya Wayan" ujarnya. Waduh!! kok gue sampe salah ambil ya, padahal kata Wayan motor bebek hitam. "Ohh maaf pak, terus motornya Wayan yang mana?"
"Ini motor yang saya bawa punya Wayan, parkirnya agak dipojok deket pohon kamboja diparkiran" jawabnya
Edan, si Wayan kagak bilang parkirnya dipojokkkan dan merk motornya pula. Plus semua motor disana kuncinya masih nempel di motor sih. Akhirnya gue tukeran motor dengan Pak Ketut.
Lanjutlah tugas utama gue yaitu mengeksplore Nusa Lembongan, pertama yang pengin gue kunjungin adalah tebing devils tear. Nggak tahu kenapa disebut-nya dengan nama itu.
Setelah tanya sana sini dan mrosok-mrosok, akhirnya sampelah didevils tear, bagus banget, tebing kecil yang langsung didebur ombak tinggi sampai mengeluarkan suara ceesss. Ohh mungkin ini kenapa disebut Devils Tear (Air mata Setan) karena suara yang ditimbulkan memanng agak menyeramkan. Setelah puas foto-foto disana, gue langsung cabut ke arah nusa ceningan.
Nusa Ceningan adalah pulau kecil dekat Nusa Lembongan yang dihubungkan oleh jembatan kecil. Itu yang membuat gue penasaran, tapi sebelum sampai kesana gue berhenti ambil gambar hamparan rumput laut yang dibudidayakan. Hmmm inilah bali sesungguhnya, pikir gue, jauh dari dentum-dentuman suara cafe yang bising, bule-bule perempuan yang asyik memamerkan bikininya, turis-turis lokal yang sok ikut-ikutan gaya turis manca negara yang kadang buat gue mual (he he he). Gue agak terperangah ternyata ada mobil dan delman juga disini, caranya bagaimana kesini ya? Biarlah entar gue tanya ke Pak Ketut.
Sesampai di ujung jembatan Nusa ceningan, gue agak ragu melewati jembatan tersebut, karena belum pernah gue naik motor lewat jembatan seramping itu, maklum biasanya jembatan beton. Lantai jembatan itu dari kayu yang disusun rapi dan rapat, kemudian bertumpu pada tuas-tuas besi yang menggantung pada kabel baja yang menghubungkan kedua sisi pulau, yo wiss daripada entar nyesel. Pelan-pelan gue lewatin jembatan dengan hati-hati, maklum motor sewaan. Akhirnya gue berhasil melwetai jembatan dan sampai di Nusa Ceningan, horeee. Langsung gue tancap gas mengikuti jalan aspal disana, ternyata nggak ada apa-apa, cuman desa nelayan yang sepi tanpa ada kapal-kapal yang lagi bersandar.
Kecewa, diputuskanlah balik ke Nusa Lembongan dan eksplore disana saja. Eh ketemu Wayan dijalan yang mau jemput kakaknya di Nusa Ceningan, langsung gue ceritain masalah motor tadi dan dia cuman cengar cengir, dan gue tanya bagaiman ada mobil dan kuda sampai disana. Dan ternyata ada kapal besar dari Kusamba yang bisa membawa mobil dan kuda itu kesini, kata Wayan. Ohh begitu tho, yo wiss lanjut lagi eksplore-nya.
Tak terasa perut sudah mulai keroncongan, tadi pagi gue lihat ada warung sate madura di dekat mushroom bay yang masih tutup, mudah2an siang ini sudah buka. Langsung kebut menuju sate ayam! Ehhh ternyata sampai disana masih tutup juga, rasanya mau nangis, akhirnya makan biskuit dan roti dulu yang gue beli di minimarket deket situ.
Setelah roti dan biskuit abis, mulai naik motor lagi balik ke jungut batu, tapi dijalan liat banyak layangan warna-warni, hmm liat anak-anak maen layangan seru juga nih buat foto-foto. Ya udah nekad aja, patokkan menuju kesana ya layang-layang itu. Mrosok-mrosok lagi masuk-masuk gang kecil, muter-muter, kok nggak ketemu juga yah, mau nanya tapi nggak ada sepotong orang pun keluar, kecewa lagi. Yo wiss mendingan balik ke Jungut batu aja.
Belum sampai jungut batu, motor gue belokkan menuju jalan lain, nggak tahu kenapa, cuman penasaran aja, dan benar dari jalan itu gue bisa lihat desa jungut batu dari atas, baguss bener. Ternyata nggak jauh dari sana ada penginapan yang mahal, resort kayaknya, panteslah wong bagus kok viewnya.
Setetelah puas foto-foto, barulah beneran menuju desa jungut batu ditambah perut udah mulai keroncongan lagi. Sesampai disana setelah larak lirik sana sini kok nggak ada warung halal yak, yang ada warung makan yang menyediakan masakan b2, waduh. Akhirnya gue berhenti sebentar diwarung rokok dan beli kacang dan aqua (nggak ada roti). Kemudian datanglah seorang tukang bakso keliling mampir disitu, si abang bakso ternyata orang banyuwangi dan yang ia jualan bakso ayam, tapi kok gue nggak kepengen bakso ya? Gue pengen banget makan nasi setelah tadi pagi makan Pop Mie di Sanur.
Akhirnya gue beranikan diri makan nasi goreng ayam diwarung makan yang gue liat tadi, minumnya teh botol tidak dingin, karena mati listrik jadinya kulkas tidak bisa digunakan plus es batu di kulkas udah mencair semua. nasi goreng pun datang, tapi rasanya nggak masuk banget selera gue. Kalo begini mendingan makan bakso ayam tadi deh.
Lepas makan, jalan lagi keujung desan jungut batu, lihat aktifitas para nelayan dan petani rumput laut. Lumayanlah, ada yang lagi menjemur rumput laut, merajut jala, betulin motor perahu, dll
Setelah puas, balik ke penginapan, tidurrr.
Bangun tidur,jalan menyisiri pantai sambil liat-liat jadwal kapal ke sanur besok pagi, karena besok malam gue musti balik ke Jakarta. Eh ada kantor Perama Travel disitu, langsung gue beli tiket kapal ke sanur dan bis ke airpot, 75 rebu totalnya. Lumayanlah daripada gue justi anek taksi ke airport.Abis itu mau berenang tapi urung, karena banyak kapal nelayan yang menambat dipantai.
Sunset pun tiba, matahari agak tertutup awan sedikit, tapi bagus banget. Dan malam itu gue makan di cafe pak ketut dengan menu nasi capcay seafood dan ice lemon tea. Makanan pun datang, waaahh enak banget, ini baru namanya makan, namun sial saat minum kok berasa asin yah? Ternyata buat minumannya pakai air tanah bukannya pakai air kemasan, padahal air tanah dijungut batu udah kena air laut, akhirnya gue pesen aqua botol sebagai pengganti ice lemon tea tadi.
Selesai makan gue sibuk corat-coret dibuku dan buka peta untuk itenerary besok pagi dibali, kayaknya besok pagi nyewa motor di sanur untuk keliling seharian dibali ok juga nih. Siiplah rencana keliling pake motor dibali udah siap, sekarng waktunya menikmati malam di Nusa Lembongan sambil memandang kerlap kerlip lampu Sanur diseberang lautan.

Menuju Nusa lembongan


telekoumikasi tanpa kabel gue (handphone) berdering keras jam 06:00 WITA, dengan malas-malasan gue melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai kegiatan itu, gue langsung packing, siap-siap ke Nusa Lembongan. Begitu pintu kamar gue buka, sinar matahari sudah mulai hangat menerpa wajah dan sebentuk bayangan pura kecil tertangkap mata. Ohh, ternyata ada pura kecil ditengah-tengah halaman hotel Ananda ini tho? He he he, maklum gue nyampe nya jam 1/2 1 malem jadi nggak keliatan apa-apa.
Sesudah check out, gue langsung menuju pelabuhan kecil (yang seadanya) pas persis didepan hotel. Sebelumnya gue nanya ke penjaga hotel "Kok saya tidak dibangunkan jam 6 pagi ini? Kan saya sudah pesan semalam", "Maaf mas saya lupa" jawab penjaga dengan santainya. Weleh! Untung gue pasang beker eh alarm ding di hp.
Pemandangan lumayan membuat ngeri terpampang didepan mata, yaitu air laut PASANG dan ombak lagi guede-guedenya, dasar sial, "jadi nggak yah ke Nusa Lembongan" pikir gue, "Nekad aje deh, emang niatnya mao kesono" kata hati gue.
Langsung gue melesat ke loket tiket kapal, langsung dengan pede gue bilang "Beli' (mas) tiket 1 orang ke Lembongan", "Nama dan asal?" pertanyaan si petugas loket yang memegang karcis kertas tipis (kayak karcis bioskop tahun 80-an) plus buku tulis lengkap dengan pulpen hitamnya.
"...... dari Jakarta" jawab gue. Eh si beli langsung menatap aneh ke gue, gue pun hanya membalas dengan wajah bego. Kemudian ia kembali menatap buku tulisnya dan menulis nama gue disitu, pas gue lirik buku itu ternyata semua tulisan disitu nama orang bali semua, seperti ketut, putu, wayan, made, dll, jadilah gue penumpang kapal yang bukan orang bali. He he he serasa orang sini jadinya. langsung setelah itu gue cabut ke warung-warung yang berserakan sekitar pelabuhan, mau makan apa ya? musti cari yang halal nih, akhirnya pilihan jatuh ke POP MIE, setelah khawatir akan lauk yang disediakan diwarung takutnya nggak halal.
Kemudian gue nunggu diatas batu-batu pinggir pantai, air laut nggak surut-surut juga dan ombak tambah besar kayaknya. "Adek mau ke Lembongan?" suatu suara disebelah gue, pas gue nengok ternyata seorang bapak lengkap dengan beskap putih, kain sarung dan pembalut kepala yang khas bali. "Iya pak mau kesana, bapak juga mau kesana?" jawab gue sambil mikir bapak ini pasti mau dateng ke upacara nih.
"Tidak, saya mau ke Nusa Penida, adek mau pulang kampung atau mengunjungi saudara disana?" tanyanya lagi.
"Enggak pak, saya dari Jakarta mau lihat-lihat aja Nusa Lembongan seperti apa" jelas gue, sambil mikir lagi emangnya tampang gue kayak orang bali yak?
"Ohh, mau jalan-jalan, kok naik kapal kayu begini, tidak naik kapal yang di benoa?, biasanya orang Jakarta ke Lembongan naek kapal besar itu" selorohnya
"He he he, nggak punya duit pak kalo naek kapal itu, murahan naik disini" sambil cengar cengir dan tumben gue jawab jujur, mungkin karena si bapak mau sembahyang makanya gue takut kalo bohong, ha ha ha.
"Ya ndak apa apa, yang penting tujuannya sama kan?"
Kemudian tak lama panggilan para penumpang untuk naek kapal ke Lembongan pun di gemakan oleh jurumudi kapal. Gue pun panik, pasalnya air laut masih pasang dan ombak masih guede-guede. Gimana nih? Apa gue musti nyemplung ke laut setinggi perut buat nyampe kekapal? Tiba-tiba gue lihat seorang ibu telah sampai dikapal itu, kok bisa? Ternyata ada pemuda-pemuda menawarkan jasa untuk naik kekapal menghindari air laut, caranya yaitu digendong dipundak!!! Mampus dah gua, musti ngikutin juga nih? Akhirnya gue tunggu penumpang laen naek kekapal, ternyata emang samimawon, mau itu ibu2, bapak2, anak muda, anak kecil, semuanya digendong. Akhirnya dengan pasrah gue mau digendong juga menuju kapal, tengsiinn berat.
Sesampai dikapal gue langsung duduk ditengah buritan, kapal ini sangat sederhana, tidak ada bangku yang ada hanya papan yang disusun sedemikian rupa sebagai tempat duduk. Kapalpun mulai meluncur dan beberapa kali menghantam ombak tinggi dan sedikit oleng kanan kiri, what a ride, tapi karena rasa kantuk yang masih mendera akhirnya gue memilih tidur-tidur ayam dengan pasrah daripada musti ngeliat ombak tinggi yang siap sedia menggoyang kapal ini.
Tiba tiba kok bau ya? Bau apaan nih, ketut bukan, ketek juga bukan. Tak lama kemudian disusul bunyi "Ngik Ngok Ngik Ngik". Ya ampun ternyata selain manusia ada juga bayi babi yang menjadi penumpang! Babi kecil itu dimasukkan dalam karung diantara tumpukan kardus air minum dalam kemasan dan kardus-kardus ubin keramik yang letaknya hanya 1,5 meter dari gue. Kayaknya babi kecil itu pipis atau puppy dan mencoba memberitahu si empunya agar pampersnya diganti sesegera mungkin, he he he. Waduh, nggak konsen deh tidur gue dikapal kayak gini, kalo bau kentut ama ketek mah biasa, nah ini bau puppynya babi mana pernah tau gue, ya naasssiibbb.
Perjalanan memakan waktu 1,5 jam, dan sampailah gue dipulau Nusa Lembongan. Tapi gue bingung kok nyampenya di Mushroom Bay yah? Bukannya di desa jungut batu tujuan gue, pas gue tanya ke juru mudi, kalo mau ke jungut batu naek kapalnya jurusan desa jungut batu, kalo kapal lembongan ini tujuannya ya desa lembongan pantai mushroom bay, oalaaaa begonya gue kagak tanya-tanya dulu disanur tadi.
mao naek ojeg motor udah ludes diambil penumpang kapal yang lain, alhasil gue jalan kaki menuju desa jungut batu setelah tanya ke penduduk kesana berapa jaraknya, sekitar 4 km katanya, lumayaaannn pegel nih kaki.
Akhirnya gue nyerah jalan kaki, gue stop-in satu motor bebekyang lagi melintas dan minta bantuan dengan wajah memelas, "Beli bisa antarkan saya ke desa Jungut Batu" pinta gue
"Ya bisa-bisa, naiklah" jawabnya
Akhirnya sampailah gue didesa Jungut batu, sebelumnya gue memberikan uang rokok 10 rebu ke pengantar gue tadi. Dan karena emang nggak booking penginapan disini juga,akhirnya gue wara wiri cari pennginapan pinggir pantai, dan akhirnya pilhan jatuh ke Ketut Losmen, 150 rebu semalem. Bangunannya baru, ada cafe nya, tapi yang aneh kamar mandinya nggak ada pintunya!!! Waduh kalo sekamar rame2, kalo ada yang boker maka sisa penghuni kamar tsb musti keluar kamar nih, he he he he. Yak istirahat dulu bentar sekitar 30 menit dikamar sebelum keliling Nusa Lembongan.

Sanur menuju Lembongan


Akhirnya pesawat air Asia yang gue tumpangin mendarat juga di bandara i Gusti Ngurah Rai Bali, waktu telah menunjukkan 23:30 WITA. Wuiihh udah malem nih, untung gue udah makan nasi lemak di pesawat tadi, kalo udah malem begini males banget nyari makan diluar karena gue nginep di Sanur yang jalur sepi.
Langsung gue menuju loket taksi di luar sebelah kiri setelah melewati pintu keluar. Langsung mata gue meneliti satu persatu tabel harga taksi ke tujuan masing-masing. Rp 120.000 yang musti gue keluarkan untuk ke Sanur, lumayan juga nih, tapi apa mau dikata musti naik taksi juga ke sana malam ini untuk mengejar kapal pagi ke Nusa Lembongan dalam trip gue yang sendirian ini.
Taksi pun meluncur cepat menuju Jalan Hang Tuah Sanur, pukul 00:30 WITA ketika gue sampai disana. Karena gue nggak booking penginapan akhirnya gue wara wiri sekitar jalan itu dan pinggir pantai nyari penginapan yang murmer, akhirnya pilihan jatuh pada hotel Ananda, lokasinya pas pinggir pelabuhan kecil kapal ke nusa lembongan dan rate-nya 125 rebu semalem (terpaksa gue nyerah nyari penginapan karena udah malem plus jaing-jaing disekitar kayaknya nggak ramah menyambut kedatangan gue ha ha ha). Sebelum tidur gue minta dibangunin jam 6 pagi sama penjaga hotel dan gue bilang mau ke nusa lembongan naek perahu pagi.